MARWAH PROFESI DIHANCURKAN, Ketua Umum Forum Wartawan Difabel Indonesia Mengamuk: Ultimatum Keras Kapolda Jawa Tengah, Tangkap Heri Sweke Sekarang atau Hadapi Ledakan Massa!


  Radar kasusnews.com Jawa Tengah

GROBOGAN – Situasi memanas dan tak lagi bisa ditutupi dengan narasi normatif aparat. Ketua Umum Forum Wartawan Difabel Indonesia, Erlangga Setiawan, S.H., meledakkan kemarahan terbuka terhadap kinerja kepolisian yang dinilai tumpul, lamban, dan terkesan sengaja membiarkan kasus dugaan penghinaan terhadap profesi wartawan oleh Heri Sweke berlarut tanpa kepastian hukum.
Pernyataan keras itu disampaikan langsung oleh Erlangga dalam sebuah video yang dibuat pada 13 April 2026. Dalam rekaman tersebut, ia tampil dengan nada tinggi dan penuh tekanan, didampingi pimpinan redaksi Sorot Peristiwa dan pimpinan redaksi Lensa Hukum News, mempertegas bahwa kesabaran mereka telah habis terhadap sikap aparat yang dinilai tidak menunjukkan ketegasan.
Dengan bahasa yang tajam dan tanpa kompromi, Erlangga melontarkan ultimatum yang tak bisa ditafsirkan ganda:
“Ini bukan lagi soal laporan yang diproses atau tidak. Ini soal harga diri profesi yang diinjak-injak di depan publik! Kami beri waktu 1x24 jam sejak pernyataan ini kami sampaikan. Jika Heri Sweke masih bebas tanpa tindakan hukum, maka itu bukti nyata hukum sedang dipermainkan!”
Ia menegaskan, batas waktu tersebut bukan sekadar tekanan verbal. Jika dalam 1x24 jam tidak ada respons konkret dari aparat, maka pada 14 April 2026 dirinya bersama massa akan bergerak, dan puncaknya akan menggelar aksi besar pada 15 April 2026 sebagai bentuk perlawanan terbuka.
“Kami sudah siapkan langkah. Tanggal 14 April kami bergerak bersama massa, dan tanggal 15 April kami akan turun aksi. Jangan salahkan kami jika situasi memanas, karena ini akibat dari pembiaran yang kalian ciptakan sendiri!”
Dalam pernyataan yang paling mengguncang, Erlangga bahkan menegaskan komitmennya secara ekstrem terhadap perjuangan tersebut:
“Walaupun nyawa saya jadi taruhannya, saya akan mengorbankan demi profesi kami!” ungkap Erlangga dengan nada tegas.
Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan kesiapan mobilisasi massa dalam skala besar sebagai bentuk keseriusan aksi yang akan digelar:
“Kami akan datang dengan kekuatan nyata. Tiga bus penuh massa dan tujuh kendaraan bak terbuka yang berisi ratusan orang sudah kami siapkan untuk aksi ini!”
Pernyataan itu menjadi tamparan keras bagi institusi kepolisian. Erlangga secara gamblang mempertanyakan integritas dan keseriusan aparat dalam menegakkan hukum, bahkan menyiratkan adanya indikasi pembiaran yang tidak bisa lagi ditoleransi.
“Kalau kasus seperti ini saja tidak mampu ditangani cepat, lalu apa yang sebenarnya sedang dikerjakan? Publik tidak butuh alasan, publik butuh tindakan! Jangan sampai kami menyimpulkan ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi!”
Tak berhenti di situ, Erlangga memastikan bahwa gelombang solidaritas telah disiapkan secara masif, termasuk dukungan dari berbagai daerah seperti Jawa Timur yang siap turun langsung jika ultimatum diabaikan.
“Kami tidak akan diam. Ini peringatan terakhir. Jika hukum tidak ditegakkan, maka kami yang akan datang menagihnya—secara terbuka dan besar-besaran!”
Ledakan emosi tersebut mencerminkan kemarahan mendalam dari Forum Wartawan Difabel Indonesia, yang menilai penghinaan terhadap profesi jurnalis adalah serangan langsung terhadap martabat pers, terlebih ketika menyasar komunitas difabel yang selama ini juga berjuang untuk kesetaraan.
Erlangga menutup dengan pernyataan yang semakin mempertegas posisi mereka:
“Jangan pernah anggap kami lemah. Keterbatasan fisik bukan alasan untuk diinjak, justru itu alasan kami untuk melawan lebih keras. Tangkap pelaku sekarang, atau bersiap menghadapi gelombang perlawanan yang tidak bisa kalian kendalikan!”
Pernyataan ini menjadi sinyal bahaya serius bagi aparat penegak hukum. Jika tidak segera direspons, bukan hanya kredibilitas yang runtuh—melainkan potensi ledakan ketidakpercayaan publik yang bisa meluas dan sulit dikendalikan.
Penulis redaksi
Lebih baru Lebih lama