Radar kasusnews.com
Gelombang sorotan publik kini mengarah tajam ke jajaran Polres Tegal Kota. Dugaan praktik pungutan liar (pungli) dalam pelayanan pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) A untuk kendaraan roda empat/mobil pribadi mencuat dan memicu pertanyaan serius: di mana fungsi pengawasan dan komitmen pemberantasan pungli?
Seorang warga berinisial M mengaku menjadi korban dugaan pungli saat mengurus SIM A di Satpas Polres Tegal Kota pada 10 Februari 2026. Ia menyebut proses ujian terasa berbelit dan terkesan mempersulit pemohon.
“Saya datang untuk mengurus SIM A untuk mobil. Prosedurnya sangat rumit. Setelah dinyatakan gagal, saya seperti diarahkan untuk berkomunikasi dengan salah satu oknum petugas,” ujar M kepada awak media, 11 Februari 2026.
Menurut pengakuannya, setelah dinyatakan tidak lulus, ia diminta menyerahkan uang Rp1 juta dengan iming-iming proses akan “dibantu”. Karena kebutuhan pekerjaan yang mendesak, ia mengaku menyanggupi. “Setelah saya menyerahkan uang itu dan hanya diminta fotokopi KTP, dokumen saya langsung jadi dalam hitungan jam,” ungkapnya.
Jika pengakuan ini benar, maka persoalannya bukan sekadar ulah oknum. Publik menilai ini menyentuh soal tata kelola, pengawasan, dan kultur pelayanan. Pelayanan SIM adalah wajah institusi yang setiap hari bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ketika muncul dugaan transaksi di luar mekanisme resmi, yang dipertaruhkan adalah integritas dan kepercayaan publik.
Sorotan pun mengerucut pada pimpinan wilayah. Dalam struktur komando, pengawasan melekat pada atasan. Publik menanti sikap tegas: audit internal, pemeriksaan menyeluruh, dan transparansi hasilnya. Tanpa langkah konkret, kepercayaan masyarakat akan terus tergerus.
Awak media Radar kasusnews.com akan segera meminta klarifikasi kepada Kapolres Tegal Kota, Kasat Lantas Tegal Kota, Propam Polda Jawa Tengah hingga Korlantas Mabes Polri guna memastikan dugaan ini ditindaklanjuti secara profesional, terbuka, dan akuntabel.
Kini bola ada di tangan pimpinan Polres Tegal Kota: membersihkan dugaan ini secara terang-benderang atau membiarkan kecurigaan publik kian menguat. Transparansi dan ketegasan adalah jawaban yang ditunggu masyarakat.
Penulis Erlangga
